Senin, 20 April 2015

Sejarah Rivalitas El Derbi Madrileno

Menjelang leg ke-2 Quarter Final Liga Champions di Santiago Bernabeu tengah pekan ini, sikam kasih info sejarah Derbi Madrileno. Simak ceritanya dibawaah ini!




Sepenggal Kisah Persaingan Real Madrid dan Atletico Madrid dalam El Derbi Madrileno

Sebagai salah satu bagian di Spanyol yang paling pertama mengenal sepakbola, sekelompok mahasiswa Basque di Madrid mencetuskan ide untuk mendirikan klub sepakbola. Pada 26 April 1903, mereka mendirikan Athletic Club de Madrid sebagai cabang dari Athletic Club de Bilbao.

Atletico segera membangun reputasi. Dua tahun setelah berdiri, mereka menghadapi rival sekota yang sudah lahir lebih dulu, Madrid Football Club. Cikal-bakal klub berseragam serbaputih ini adalah Football Club Sky yang didirikan oleh para mahasiswa yang pernah menuntut ilmu di Inggris. Klub tersebut mengalami perpecahan dan kemudian sebagian anggotanya membentuk Madrid FC, 6 Maret 1902.

Memulai latihan di lapangan Rona de Vallecas yang terlat di kawasan pemukiman kaum buruh, Atletico memutus afiliasi dengan klub di Bilbao pada 1921 dan membangun stadion pertama mereka, Metropolitano. Tak pelak, Atletico menjadi perlambang identitas kaum buruh di ibukota Spanyol. Berbeda 180 derajat, Madrid FC menjadi biji mata Raja Alfonso XIII. Yang Mulia Raja memberi gelar "Real" (atau "Royal" dalam bahasa Inggris) kepada Si Putih.

Perhatian rezim penguasa kian kentara ketika Jenderal Francisco Franco memerintah Spanyol. Ketika Perang Saudara berakhir 1939, kompetisi Primera Liga dilanjutkan dan Real segera menjadi kepanjangan tangan Franco untuk mengukuhkan kekuasaan. 

Franco membuat Spanyol mengucilkan diri dari pergaulan internasional. Untuk memulihkan reputasi Spanyol yang dicap fasis pasca-Perang Dunia II, Franco menggunakan Real Madrid sebagai "duta besar". Sederetan pemain terbaik Spanyol dan dunia, seperti Alfredo di Stefano dan Ferenc Puskas, diboyong. Stadion Real dibangun megah di kawasan berkelas dan aristokrat Castellan. Tak heran jika Madrid kemudian berhasil merajai Piala Champions, kompetisi buah gagasan wartawan Prancis, Gabriel Hanot.

Kecemburuan muncul dari wilayah selatan kota Madrid. Di stadion baru di pinggiran sungai Manzanares, yang kemudian diberi nama Vicente Calderon, Atletico memupuk dukungan dari kaum buruh. Perseteruan Real dan Atletico pun dijuluki "sentimento de rebeldia", atau perwujudan sikap membangkang.

Namun, kemampuan Atletico mengimbangi kekuatan Real lebih tampak pada dasawarsa 1940-an. Kedua tim mencatat rekor saling mengalahkan yang relatif seimbang. Atletico bahkan mampu mengalahkan Real dua kali musim 1950-51, 6-3 dan 4-0. Pada periode ini, Atletico dilatih sosok legendaris, Helenio Herrera.

Selepas masa keemasan itu, kekuatan Atletico di kompetisi domestik meluntur. Pada masa yang sama, Madrid berjaya dan menjuarai Piala Champions lima kali beruntun. Kekuatan sepakbola di ibukota Spanyol mulai berat sebelah.

Hingga saat ini, Madrid sudah mengumpulkan 32 gelar Primera Liga. Atletico kalah jauh dengan hanya meraih 10 gelar, kali terakhir musim 2013/2014 lalu. Kedua kalinya penampilan Atletico di partai puncak Piala Champions, yakni musim lalu (2013/2014). Padahal, Real Madrid menjulang dengan 10 gelar di kancah Eropa.

Meski Madrid memiliki beberapa klub sepakbola lain, seperti Getafe, Rayo Vallecano, dan Alcorcon, catatan sejarah yang dimiliki Real dan Atletico tersebut membuat pertemuan kedua tim selalu dianggap El Derbi Madrileno yang sesungguhnya.



Source : goal.com


Ditengah pekan ini, bisa dibuktikan siapakah penguasa Madrid yang sesungguhnya? El Real atau Atleti?

Rumah Budaya Ini Koleksi Batu Akik Asal Suliki dan Sungaid

Buat yang gemar batu akik, simak info yang satu ini!




Citizen6, Tanah Datar Koleksi Rumah Budaya Fadli Zon di Aie Angek, Tanah Datar, Sumatera Barat, bertambah satu lagi. Koleksi itu berupa “batu akik” yang sedang boomingsetahun terakhir. Tujuannya, memberi apresiasi atas minat masyarakat Sumatera Barat terhadap batu mulia tersebut.

Manajer Rumah Budaya Fadli Zon, Edin Hadzalic, melalui Siaran Pers Senin (20/4/2015), mengatakan, koleksi batu akik yang dikoleksi itu berasal dari Suliki dan Sungaidareh. Di Sumatera Barat, kedua daerah ini dikenal sebagai produsen batu akik yang gaungnya sampai ke mancanegara.

“Bertambahnya koleksi Rumah Budaya ini juga bermaksud memperkenalkan batu akik Suliki dan Sungaidareh, khususnya bagi tamu-tamu yang berkunjung ke Rumah Budaya,” ujar Edin Hadzalic.

Dia mengatakan, koleksi batu akik Suliki dan Sungaidareh itu, didapatkan langsung dari kedua daerah tersebut. Koleksi yang tersedia di Rumah Budaya berupa batu bongkahan maupun batu yang sudah siap pakai.

“Semoga koleksi batu akik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang ke rumah Budaya dan bisa menjadi bahan promosi pariwisata Sumatera Barat,” harap Edin Hadzalic.

Sementara itu, Direktur Rumah Budaya Fadli Zon, Hj. Elvia Desita mengatakan, Rumah Budaya Fadli Zon diresmikan pada 4 Juni 2011. Salah satu koleksi unggulannya yaitu 100 keris Minangkabau yang dikumpulkan dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Keris itu di antaranya Keris Luk Sembilan asal Pagaruyung yang dibuat pada abad ke-18.


Selain keris, ada songket corak Minangkabau tempo dulu, juga ada 700 lebih judul buku bersejarah yang bertema Minang, sejumlah lukisan kuno, termasuk fosil kerbau berusia dua juta tahun dan fosil-fosil kayu yang telah menjadi batu.

“Rumah Budaya telah menjadi salah satu kantong kebudayaan di Ranah Minang yang keberadaannya diharapkan bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.


Diambil dari : liputan6.com



Gimana?? Anda berminat minat untuk memiliki batu alam seperti yang ada diatas??